DINASTI SAMUEL

1 2 3 4 5 Rating 4.50 (20 Votes)
AddThis Social Bookmark Button

Baca: 1 Samuel 8:1-9

Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. (1 Samuel 8:1)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 5-7



Ketika Mutia Hatta putri proklamator Moh. Hatta dihadirkan kepada publik, ketika Bugiakso cucu Jend. Sudirman tampil, atau ketika Sultan Hamengku Buwono X berkiprah serta merta kita akan mengaitkan mereka dengan ketokohan sang ayah atau kakek pada masa lampau. Kita membandingkan sikap dan perbuatan mereka. Publik berharap setidaknya para tokoh itu menyamai jiwa kepahlawanan leluhur mereka.

Demikian pula Samuel. Kita tidak perlu meragukan ketokohannya. Ia nabi dan hakim yang berintegritas selama hidupnya. Orang sangat menghormatinya. Namun, saat rakyat melihat kedua anak Samuel, mereka mendapati sikap yang berbeda. Ketika mereka menjadi hakim, rakyat melihat mereka sebagai hakim yang mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan (ay. 3). Sungguh bertolak belakang dengan karakter Samuel, yang didapati tidak bercacat saat memimpin Israel (bandingkan 1 Sam. 12:1-5).

Apakah Samuel tidak mendidik anaknya dengan baik? Baik Tuhan maupun rakyat tidak menegur Samuel tentang hal ini. Samuel sepanjang hidupnya giat mengajarkan takut akan Tuhan di seluruh tanah Israel. Jadi, kita tidak dapat menuding Samuel begitu saja. Sebaliknya, kita melihat bagaimana setiap orang harus bertanggung jawab dengan pilihan hidupnya masing-masing. Kesalehan orangtua tidak dengan sendirinya menjadikan anak mereka saleh. Tentu saja orangtua tetap dipanggil untuk mendidik dan menjadi teladan sebaik mungkin bagi anak mereka. Dan berdoa, kiranya sang anak memutuskan untuk memilih kebenaran.—MRT

MEMILIH KEBENARAN ADALAH KEPUTUSAN PRIBADI SETIAP ORANG,
NAMUN KITA DAPAT MEMOTIVASI SATU SAMA LAIN UNTUK MELAKUKANNYA


Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria

Respons: