GADIS BODOH DAN BIJAKSANA

1 2 3 4 5 Rating 4.26 (23 Votes)
AddThis Social Bookmark Button

Baca: Matius 25:1-13

Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. (Matius 25:1,2)


Bacaan Alkitab Setahun: 
Ulangan 28



Kedatangan Kristus kedua kali adalah kepastian yang tak terelakkan. Hanya, kapan itu akan terjadi, tak seorang pun tahu. Namun semua orang sadar, dunia ini tidak kekal dan sang pemilik kehidupan akan datang meminta pertanggungjawaban. 

Orang beriman digambarkan sebagai lima gadis bijak yang menanti kedatangan Kristus—bak pengantin perempuan yang berjaga dengan penuh rindu akan kekasih jiwanya. Ia memperlengkapi diri, menjaga persediaan minyak dan menjaga pelitanya menyala, agar pesta pernikahan mereka bisa berlangsung. Orang dunia digambarkan sebagai lima gadis bodoh. Mereka ikut menanti, tetapi sayang terlalu memikirkan kenikmatan sesaat—kondisi hidupnya hampir padam, terlelap dalam kenikmatan dunia. Mereka hidup bejat dan menyeleweng (bdk. Maz. 14:2-3). Ya, manusia di akhir zaman kerap mengabaikan masa datang yang lebih langgeng dan jauh lebih indah. Mereka lupa, sang mempelai pria bisa datang setiap saat. Ketika Tuhan datang membela orang tertindas yang tetap percaya dan berlindung kepada-Nya (Maz. 14:5-7), pintu kesempatan sudah tertutup bagi mereka yang bodoh (Mat. 25:10-12). 

Waspadalah! Banyak ahli Alkitab sepakat bahwa pelita adalah iman yang tersimpan dalam hati orang percaya. Sedangkan minyak adalah firman Tuhan yang harus tetap dijaga, dihidupi, dan tak diabaikan. Persediaan firman itulah yang menjaga iman kita tetap menyala. Jika sang Mempelai datang, biarlah Dia mendapati iman kita tetap terjaga. Kiranya kita menjadi bijak. Hidup berpadanan dengan firman-Nya. —SST

MARANATHA, YA KRISTUS DATANGLAH SEGERA!
KAMI SIAP MENYAMBUT ENGKAU.


Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria

Respons: