HATI BAPA

1 2 3 4 5 Rating 4.40 (53 Votes)
AddThis Social Bookmark Button

Baca: 2 Samuel 19:1-4

Raja menyelubungi mukanya, dan dengan suara nyaring merataplah raja: "Anakku Absalom, Absalom, anakku, anakku!" (2 Samuel 19:4)


Bacaan Alkitab Setahun: 
Kisah Para Rasul 9-10



Hati seorang bapa mana yang tidak sedih tatkala melihat perilaku anak kandungnya yang semata-mata hanya mendatangkan dukacita? Beberapa orang bapa di dunia ini mungkin saja bisa merasa sakit hati dan memutuskan hubungan dengan seorang anak yang berperilaku demikian, namun apakah ia bisa melupakannya? Tidak! Sejahat apa pun perilaku anak itu, ia tetaplah seorang anak yang memiliki hubungan batin dengan bapanya. 

Demikianlah kita mengenal hubungan Daud dengan Absalom, anaknya. Absalom telah berlaku kurang ajar dengan memberontak dan mempermalukan orang tuanya. Hal ini jelas memilukan hati Daud, tapi sebagai seorang bapa, ia tetap mengasihinya. Hari itu, kemenangan para prajuritnya tidaklah membuatnya bersorak-sorai dengan sukacita, tetapi sebaliknya Daud merasakan dukacita mendalam karena kematian Absalom. Daud menangisi kematian Absalom; sampai-sampai tangisan dan ratapannya terdengar begitu keras di telinga para tentara yang berperang untuknya. 

Hati bapa yang ditunjukkan Daud mengingatkan kita kepada hati Allah kepada umat-Nya. Sejujurnya, kita tidak pernah berhenti memilukan hati-Nya dengan pelanggaran-pelanggaran kita. Namun demikian Allah tidak pernah berhenti memikirkan dan mencari kita. Ia begitu berharap agar kita kembali dalam pelukan-Nya, Ia mau mengampuni kita. Sampai kapan pun Allah setia menanti kehadiran kita. Hati-Nya berlimpah dengan kasih dan pengampunan, apakah kita bersedia menanggapi kasih setia-Nya, mengakui semua pelanggaran, dan menerima anugerah-Nya?

—SYS/www.renunganharian.net


DOSA SELALU MEMBUAT HATI BAPA MENJADI PILU,
TAPI DOSA TIDAK BISA MENGHENTIKAN-NYA
UNTUK TETAP MENGASIHI KITA


Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria

Respons: